Islam…bukan Arab

Islam adalah sebuah definisi yang sangat jelas tentang suatu keyakinan yang sangat universal dan mempunyai dasar logika yang sangat kuat terhadap aspek-aspek kehidupan manusia, sebuah keyakinan yang mengedepankan perdamaian daripada pertikaian, sebuah keyakinan yang mendekatkan adaptasi budaya daripada pembunuhan karakter. Tetapi apa yang tampak pada kehidupan sehari-hari disini mungkin sangat berbeda, Islam disini lebih condong kearah Arab dan yang mengaku Islam seolah berubah menjadi mode yang berkiblat pada kehidupan-kehidupan di daerah timur tengah atau Arab. Tidak mungkinkah Islam  membaur dengan budaya-budaya lokal sehingga mampu mengusung ciri khas bangsa? jawabannya adalah sangat memungkinkan, Wali Songo memperkenalkan Islam melalui media budaya yang sangat kental dengan kandungan budaya Jawa, dan secara langsung menunjukkan begitu fleksibelnya Islam dan universalitas yang sangat masuk akal. Selanjutnya salahkan jika menggunakan atribut-atribut timur tengah atau Arab? juga tidak salah, kemudian haruskah sampai menggilas ciri-ciri budaya lokal dari hal-hal yang sangat umum seperti pakaian atau menjadikan mode-mode ke-arab-araban  menjadi sebuah penanda agar disebut Islam tentu tidak, hanya bagaimana Islam dipahami sebagai sebuah keyakinan yang universal dan dapat diserap oleh budaya mana saja tanpa harus melihat asal dari Islam diturunkan yaitu Arab, sehingga lebih jauh dapat melestarikan dan menjaga budaya lokal yang semakin lama semakin terpojok oleh gaya hidup modern yang cenderung kapitalis dan borjuis, sekali lagi bukan bermaksud menyalahkan apa atau siapa tapi lebih kepada menghimbau sebagai seorang Islam yang mungkin belum tentu Islam sebenarnya atau Islam KTP, agar tidak menghilangkan pola-pola budaya lokal dari pakaian atau bahkan cara hidup. Perlu diwaspadai pola-pola seperti itu merupakan kemerosotan tingkat kesadaran tempat berpijak atau pergeseran komunal yang akan menghilangkan ikon-ikon lokal dan menimbulkan aliran-aliran budaya yang kurang jelas asal-usulnya sehingga menjadikan sebuah peradaban yang kurang menghargai sejarah dan budaya lokal. Ataukah struktur budaya kita memang lemah pada saat ini sehingga tidak mampu membendung derasnya gempuran budaya-budaya luar yang begitu ofensif ataukah memang generasi-generasi ini lebih menghargai budaya – budaya terapan daripada budaya asli yang tumbuh dari generasi-generasi terdahulu dan  akhirnya harus menyerah begitu saja tanpa ada perlawanan. Atau memang belum sadarnya manusia-manusia ini dalam menyikapi Islam secara universal dan bukan sebagai tuntutan yang berbasis trend atau pemaksaan budaya? jawabannya hanya ada pada generasi-generasi penerus yang bertugas membuat tameng-tameng budaya yang kokoh dalam membentengi serbuan budaya asing yang semakin gencar dengan adanya globalisasi dan sadarlah bahwa budaya ini adalah warisan yang sangat berharga dan membentuk secara tidak langsung pola-pola kehidupan komunal kebanyakan masyarakat yang meyakini Islam sebagai agama terbaik dan menjadi kekuatan yang sangat disegani dan dengan dukungan budaya lokal, universalitas itu akan menjadi contoh bagi banyak bangsa dan budaya bahwa Islam dapat berada di mana-mana tanpa sebuah gesekan potensial yang akan menghancurkan benih-benih budaya lokal yang semakin  pudar ditelan cepatnya arus informasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s