Islam dan Pendidikan…….Pandangan Kosong Seorang Rakyat

Pendidikan adalah hak siapa saja untuk mendapatkannya, dari orang yang paling miskin sampai orang yang paling kaya. Namun keadaan saat ini berbicara lain, sebagian besar sekolah menetapkan biaya yang cukup mahal, bahkan untuk pendidikan setingkat TK atau Pre School sekalipun, apalagi kalau sudah menyandang predikat sebagai Sekolah Favorit seolah-olah mereka dapat menetapkan biaya pendidikan yang sangat mahal hanya karena ada embel-embel Favorit. Di kota ini yang dulunya pernah menyandang predikat sebagai kota pendidikan, saat ini banyak sekolah yang menyebut dirinya sebagai sekolah favorit dengan berbagai fasilitas dan metode pendidikan yang ditawarkan, dan yang lebih disayangkan dari beberapa dari sekolah tersebut memakai nama-nama Islam atau sebutlah Sekolah Islam. Dari sisi prestasi mungkin boleh berbangga karena saat ini sekolah-sekolah Islam tersebut sudah mempunyai daya saing yang bagus, dan tidak lagi didominasi oleh sekolah-sekolah non islam. Tetapi apakah itu menjamin bahwa sekolah tersebut menjadi sebuah tempat pendidikan yang akan berjalan pada fungsi awalnya yaitu mencerdaskan bangsa, ternyata tidak, sekolah-sekolah penyandang predikat tersebut malah menjadikan hal itu sebagai sebuah peluang bisnis yang sangat menggiurkan dengan predikat favorit mereka malah menetapkan standar biaya yang sangat tidak masuk akal bagi rata-rata masyarakat disini, mungkin secara logika biaya setinggi itu digunakan untuk membangun fasilitas-fasilitas lebih yang mereka tawarkan atau untuk membayar guru-guru yang bagus, tetapi apakah itu menjadi hal yang esensial bagi sebuah institusi pendidikan, yang merupakan hak setiap warganegara untuk mendapatkannya, tentunya tidak, dan haruskah seorang anak yang punya kemampuan akademis tinggi akhirnya harus berhenti sekolah karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya pendidikan yang begitu melambung, memang menjadi sebuah kontroversi ketika seorang yang pandai tidak mampu menikmati pendidikan yang bagus hanya karena tidak punya biaya. Kejadian tersebut saat ini menjadi hal yang sangat umum di negara ini, dimana Islam adalah agama dengan umat terbesar, dan setiap hari gembar-gemborkan bahwa Islam sangat menghargai pendidikan, sedangkan sekolah dengan nama-nama Islam sekarang telah menjadi institusi bisnis yang menetapkan harga mati yaitu nilai uang sebagai standar, dan bukan nilai-nilai Islam sebagai sebuah bentuk siar dan kepedulian terhadap kemajuan pendidikan, memang sesuatu yang sangat ironis, ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa sekolah-sekolah Islam tersebut tidak dapat atau tidak mau menjadi sebuah institusi yang secara sukarela menampung insan-insan dengan kualitas kecerdasan yang tinggi tetapi hanya mau menampung anak-anak orang kaya dengan kemampuan finansial yang mumpuni dan cenderung berlebihan dalam hal materi. Lebih jauh lagi, model-model sekolah favorit akan menjerumuskan pendidikan formal pada nilai-nilai bisnis yang cenderung pada kapitalis daripada nilai-nilai Islam yang fleksibel dan berpihak pada rakyat dan pendidikan secara esensial. Bukankah Islam begitu menghargai orang-orang berilmu, dan bukan lulusan sekolah-sekolah favorit di negeri ini, yang terlalu dimanjakan oleh fasilitas sehingga lupa pada kemampuan diri sendiri dalam mengasah ilmu dan mengeksplorasi kemampuan akademis secara konvensional. Buat apa memaksakan seorang anak sekolah dasar dengan teknologi-teknologi tinggi seperti Internet yang secara psikologis belum mampu mereka serap secara utuh dalam logika berpikir mereka, dan hanya akan menjadikan sebuah Misplaced Technology atau penggunaan teknologi yang salah tempat. Buat apa memaksakan seorang anak sekolah dasar untuk menggunakan komputer, jika pada usia-usia mereka masih perlu sosialisasi yang lebih terhadap dunia luar untuk meningkatkan dan mengembangkan tingkat adaptasi mereka terhadap lingkungan. Memang tidak salah memperkenalkan teknologi canggih pada anak-anak seusia mereka, tetapi apakah hal itu yang menjadi pertimbangan sebuah institusi pendidikan untuk mark-up biaya pendidikan menjadi meroket seperti layaknya biaya masuk perguruan tinggi. Dalam perspektif umum, tingginya biaya pendidikan pada sekolah-sekolah berlabel Islam tersebut sangat bertentangan dengan konsep-konsep Islam tentang pendidikan yang murah untuk mencerdaskan dan memperkuat bangsa serta membasmi kebodohan dalam rangka menjadikan agama Islam yang kokoh dalam keadaan apapun, dan bukan Islam yang menjadi takabur dan sombong ketika uang sudah menjadi orientasi utama dalam hal mencerdaskan umat. Begitu banyak orangtua yang kecewa, begitu banyak anak-anak yang tak mampu mengenyam pendidikan layak, begitu banyak nilai-nilai Islam yang rapuh hanya karena predikat Sekolah Favorit yang akhirnya hanya menyerap nilai-nilai kapitalis “Kalo nggak mampu ya nggak usah sekolah”. Atau memang masyarakat dilarang miskin, sehingga mereka harus dengan susah payah mendapatkan pendidikan yang layak. Masyarakat saat ini mungkin tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi haruskan mereka selalu menjadi korban dari derasnya arus globalisasi dan modernisasi, sampai-sampai harus kehilangan hak mereka dalam menikmati pendidikan, atau mungkin banyak orang hidup dari Islam dan bukan menghidupkan Islam, mungkin hanya mereka yang punya jawabannya. Ataukah perlu sebuah Revolusi Pendidikan yang akan menghancurkan semua bentuk ketidakadilan kesempatan dalam mengenyam pendidikan secara murah dan lebih berpihak pada kaum Proletar atau rakyat kecil yang tidak pernah bisa berbicara banyak . hanya Tuhan yang Maha Tahu yang akan merubahnya dengan cara-cara yang misterius cepat atau lambat. Dan seorang rakyat masih harus berusaha keras dan berdoa, dengan pandangan kosongnya ia meninggalkan sekolah itu tanpa tahu kemana lagi ia harus mencari setitik keadilan bagi anak-anaknya yang begitu pandai….hanya karena dia tidak kelebihan materi, mungkin rasa syukur dan ikhlasnya-lah yang akan membimbing rakyat itu dan anak-anaknya menjadi orang yang lebih berguna daripada lulusan sekolah-sekolah favorit itu,sekali lagi Hanya Tuhan yang tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s