Media….dan Istilah-istilah yang Dipaksakan

Media adalah sebuah wadah yang merupakan cermin dari kenyataan sehari-hari yang muncul di masyarakat. Dari wadah inilah muncul issue-issue terkini yang menjadi sebuah wacana umum masyarakat dengan berbagai sudut pandang yang berimbang dan disadari atau tidak menjadi penentu dalam pengambilan keputusan umum dalam hal-hal yang bersifat umum di semua aspek kemasyarakatan. Bahasa jurnalistik yang disajikan memang berbeda-beda untuk tiap-tiap media, yang ditentukan dari cakupan segmen yang menjadi sasaran media untuk memperluas pasarnya sesuai dengan kebijakan dan kemampuan masing-masing media. Pada saat bahasa jurnalistik itu disajikan dengan sederhana dan menggunakan istilah-istilah populer, saat itu pula masyarakat dari semua segmen akan lebih memahami isi berita yang akan disampaikan. Lain pula jika bahasa jurnalistik yang disajikan cenderung dengan istilah-istilah ilmiah yang mungkin hanya akan dipahami oleh segmen masyarakat tertentu dengan tingkat pendidikan yang lebih tentunya. Dari pengalaman sehari-hari dan dari beberapa media yang ada, kadang-kadang membuat istilah-istilah yang kesannya sangat dipaksakan dan terkesan tidak berada dalam jalur yang benar jika dilihat dari kaidah berbahasa, entah itu sah-sah saja jika dilihat dari sudut pandang jurnalistik mungkin saya harus belajar lebih banyak. Sebuah media di kota tempat saya tinggal, memang merupakan media yang cukup berpengaruh, tetapi kadang-kadang mereka memaksakan sebuah istilah yang terlihat janggal atau membuat singkatan-singkatan yang terasa aneh jika dilafalkan. Secara umum ada baiknya jika istilah-istilah itu ditulis lengkap apa adanya, sehingga tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar dalam kaidah tatabahasa, atau buatlah karya jurnalistik itu dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang cukup sederhana dan tidak menciptakan singkatan-singkatan baru yang kadang-kadang aneh untuk dilafalkan. Bukankah media saat ini menjadi referensi bagi masyarakat dalam menyikapi kejadian sehari-hari di lingkungan mereka dan kadang-kadang menjadi panutan buta masyarakat dalam menganalisa kejadian-kejadian tertentu. Seorang jurnalis yang baik adalah seseorang yang dapat menggambarkan sebuah kejadian nyata dalam sebuah tatanan bahasa yang mudah dimengerti dan dapat diterima dengan benar oleh masyarakat, disamping isi berita tersebut maupun istilah-istilah yang dipakainya, dan bukan memaksakan sebuah istilah atau singkatan yang terkesan dibuat-buat sehingga menimbulkan sebuah “kontroversi” dalam kapasitas tata bahasa. Sekali lagi bukan menghakimi media tetapi hanya memberi sebuah saran sederhana yang kerap dilupakan dalam penulisan karya-karya jurnalistik di media, yang sebagian besar menggunakan “istilah-istilah yang dipaksakan” sehingga sedikit banyak cukup membuat bingung si pembaca. Memang untuk menuju sebuah kesempurnaan tata bahasa adalah sesuatu yang sulit dalam karya-karya jurnalistik yang kadang-kadang ditentukan oleh beberapa faktor seperti terbatasnya kolom suratkabar atau dininya deadline yang ditentukan. Alangkah bijaksananya sebuah karya jurnalistik di media memakai istilah-istilah umum yang akan mudah dimengerti oleh masyarakat umum di semua segmen daripada membuat istilah-istilah sendiri yang sangat dipaksakan dan mungkin akan membingungkan pembaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s