Ketika Perdamaian Dijual…..Siapa yang Akan Membeli

Ketika media elektronik menampilkan sudut-sudut dunia yang penuh dengan letusan senjata, ketika media cetak memasang foto-foto adegan baku tembak, ketika anak-anak muda sudah mulai beraksi dengan yel-yel pertempuran, ketika penegak hukum sudah lupa dengan kode etik perlindungan dan pelayanan, ketika buruh-buruh sudah bosan dengan gaji kecil mereka, ketika wakil-wakil rakyat sudah tidak peduli lagi terhadap apa yang diamanatkan, ketika kepala-kepala daerah sudah dibutakan oleh harumnya bau rupiah, ketika jalan-jalan raya sudah padat dengan makian, ketika keramahan sudah berubah menjadi kebrutalan, ketika toleransi sudah berubah menjadi individualisme buta, ketika kasih sayang berubah menjadi tendensius, ketika suara-suara lembut wanita menjelma menjadi teriakan-teriakan lantang menentang, dan masih banyak ketika-ketika lain yang akan menyusul dengan kemerosotan mental yang begitu menyedihkan sehingga menenggelamkan bibit-bibit budaya bangsa yang sopan, ramah, suka menolong dan toleransi tinggi. Sempatkah terpikir sebuah arti perubahan yang sebenarnya untuk menuju sesuatu yang lebih baik, ataukah hanya sekedar perubahan tanpa makna yang berakhir dengan hilangnya kisi-kisi moral yang tertanam sejak lama dalam diri insan-insan negara gotong-royong yang gemah ripah loh jinawi dan tut wuri handayani atau istilah-istilah normatif yang begitu indah didengar dan diartikan. Bukan salah siapa-siapa dan bukan menyalahkan siapa-siapa, tetapi sekedar belajar dari pengamatan sempit dari seorang insan yang berusaha merubah hal-hal kecil di lingkungan yang sangat sempit, yang memang jauh sekali dari kata berhasil atau sukses. Haruskah mengorbankan keseimbangan hanya untuk kesenangan sesaat yang akan menjerumuskan begitu banyak insan kepada sebuah jurang kematerian yang sangat dalam, sampai-sampai tidak ada lagi ruang untuk bernapas bagi kaum-kaum kecil yang ingin menghirup sedikit udara perdamaian. Sudah begitu mahalkan nilai-nilai budaya lokal yang penuh dengan kesabaran dan toleransi dan menghargai sesama, sudah lenyapkah kesadaran-kesadaran hakiki untuk mendahulukan kepentingan orang banyak, sudah hancurkah tatanan sistem kehidupan alami yang menjadi ciri bangsa sejak berabad-abad yang lalu. Perlukah sebuah perdamaian dijual…….tetapi siapa yang akan membeli….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s