Perilaku Di Jalan….Cerminan Diri Sebenarnya…

Bukan hal yang aneh lagi, ketika melihat jalan-jalan yang macet dengan antrian kendaraan yang berjajar menunggu saat-saat berjalan. Begitu banyak kendaraan bermotor yang diproduksi tanpa diikuti perkembangan infrastruktur dan fasilitas jalan yang memadai. Memang tanpa disadari keadaan itu terasa semakin parah belakangan ini, bukan semata-mata karena kurangnya infrastruktur dan fasilitas jalan, tetapi lebih karena mental pengguna jalan dengan perilaku yang tidak bisa disebut sopan atau punya unggah-ungguh (kata orang jawa). Sering terlihat kendaraan-kendaraan umum berhenti seenaknya tanpa memperhatikan kendaraan yang ada di belakangnya, bahkan tanpa tanda-tanda lampu sein untuk berbelok ke arah tertentu. Tidak jarang pula mobil-mobil berebut untuk mendahului sampai-sampai tanpa menghiraukan pengguna jalan lain yang lebih kecil seperti pejalan kaki atau pengendara sepeda onthel.  Terlalu banyak kendaraan-kendaraan besar seperti truk dan bus yang begitu arogan dengan badan besarnya hingga menghabiskan semua lebar jalan untuk berlomba saling menyalip. Semakin parahnya mentalitas pengguna sepeda motor yang sudah tidak peduli lagi dengan aturan-aturan umum pemakaian jalan dan sering mengabaikan tanda-tanda lalu lintas yang terpampang begitu besar di sudut-sudut jalan raya. Memang perilaku di jalan akan berbeda dari orang ke orang, tetapi ketika sebagian besar dari mereka melakukan kesalahan yang sama, akan menjadi sebuah pengamatan umum yang kemudian menjadi sebuah referensi bahwa mental masyarakat pada umumnya sudah terlihat dari cara-cara mereka di jalanan. Aturan dibuat tidak untuk dilanggar tetapi dipatuhi, tetapi ketika sebagian besar orang tidak menyadarinya, aturan itu hanya akan menjadi serangkaian tulisan tak bermakna. Saat orang-orang sudah berulah dengan kemacetan di jalan raya,  secara tidak langsung menunjukkan secara jelas begitu parahnya mentalitas bangsa, sehingga hal-hal yang kecil sekalipun tidak dapat mereka lakukan sesuai aturan. Saat berhenti di sebuah lampu merah, dan ketika lampu kuning baru menyala menuju lampu hijau, bel-bel berbunyi keras seolah-olah mereka begitu tidak sabar dan tidak sadar bahwa bukan hanya mereka yang punya hak untuk menikmati fasilitas jalan raya, orang-orang lain juga berhak atas penggunaan jalan, dan bukan terburu-buru untuk mendahului. Sedikit banyak potret perilaku masyarakat dapat dilihat dari tingkah laku mereka saat di jalan. Jika jumlah orang-orang yang demikian menjadi berlipat, sudah seharusnya kita merasa sedih karena akan melahirkan potret bangsa yang kurang sabar dan selalu terburu-buru dan tidak pernah berpikir panjang dan hanya berpikir singkat bahwa pengguna jalan adalah diri mereka sendiri. Sebenarnya potret perilaku tersebut hanya sebuah hal yang sangat sederhana tetapi lebih bijaksana jika kita sedikit saja memberi kesempatan yang sama bagi pengguna jalan lainnya, tanpa ada sentimen pribadi atau rasa individualisme. Demikianlah gambaran perilaku di jalan raya…adalah sebuah cermin perilaku masyarakat yang cuma mementingkan diri sendiri dan terkesan seenaknya tanpa menyadari mereka telah melanggar aturan-aturan baku berlalu-lintas. Mungkinkah ini akan menjadi sebuah budaya negatif yang berkembang akibat lalainya masyarakat dan pemerintah terhadap sebuah kesadaran dan toleransi yang telah tumbuh berabad-abad lamanya di dalam benak segenap insan indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s