SEPAK BOLA Dan KEPEMIMPINAN YANG FAIRPLAY

Begaimana tidak sedih mendengar dan melihat sebuah organisasi besar sepakbola nasional dengan pemimpin yang harus mendekam di tahanan karena suatu kasus, dan belum sadar terhadap apa yang telah dilakukannya dan tidak secara sukarela mundur teratur. Haruskah sebuah organisasi besar ini menjadi korban permainan politik yang sama sekali bertentangan dengan istilah fair play dalam sepakbola atau istilah sportivitas yang kerap diteriakkan secara lantang dan bersemangat. Lebih jauh lagi, situasi seperti ini akan memicu amarah terpendam dari berbagai pihak yang menginginkan sebuah organisasi olahraga yang besar dan murni menangani olahraga sepakbola secara profesional dan terlepas dari rekayasa politik, atau memang suatu hal yang sulit mencari seorang pemimpin organisasi yang kredibel dan bisa menjadi panutan dari sekian juta rakyat indonesia, mungkin hal ini tidak bisa dipisahkan dari netralitas organisasi olahraga, selama politik dan uang masih berbicara banyak dalam manajemen organisasi maka tidak mungkin menghasilkan sebuah organisasi yang kapabel dan berwibawa dalam melindungi kepentingan olahraga rakyat ini. Di sisi lain, persepakbolaan masih diwarnai kepentingan-kepentingan lain di lapangan dengan kurang tegasnya sang pengadil atau kurangnya kesadaran penonton, terutama dalam menerima sepakbola sebagai sebuah olahraga dan permainan kalah menang. Ketika sebuah kepentingan sudah berada di level atas persepakbolaan maka bisa jadi kemenangan menjadi komoditas jual beli dan berakibat terjadinya unfair play di lapangan karena pengadil telah menerima kontribusi tertentu dari sisi pemilik kepentingan, dan sejauh ini justru menyulut terbakarnya api temperamen penonton karena melihat sebuah guyonan sepakbola di depan mata, seperti layaknya badut-badut berseragam. Pada saat sepakbola menjadi sebuah kendaraan umum bagi kepentingan politik sebuah kelompok atau individu dan kebutuhan akan rupiah menjadi segalanya akan menciptakan iklim tidak sehat dan cenderung menimbulkan keberpihakan terhadap beberapa kelompok masyarakat yang menginginkan kaburnya definisi olahraga dalam konteks yang sebenarnya. Memang sebuah ironi jika olahraga ini menjadi senjata utama para maniak politik dalam menggalang kekuatan basis massa atau mencapai tujuan tertentu dengan kepentingan yang lebih besar. Apalagi, sejauh ini banyak klub sepakbola yang masih mengemis untuk uang rakyat untuk operasional tim dan pembelian pemain ditambah lagi dengan pemilihan pengurus dan manajemen tim yang amburadul dan menjadikannya sebagai sebuah lahan basah untuk menggerogoti uang rakyat dengan dalih kepentingan olahraga. Sejujurnya kebutuhan akan profesionalisme sangat urgen di dalam olahraga ini, mengamati dan banyak belajar dari negara-negara dengan tradisi sepakbola yang kuat baik dalam manajemen maupun keorganisasian. Memang tidak mudah, secara langsung merubah semuanya tetapi lebih kepada kemampuan beradaptasi dengan tradisi sepakbola menurut budaya luhur negeri ini, dan membuang jauh-jauh political will oleh individu atau kelompok yang hanya akan menghancurkan kenetralan olahraga dan menjadikan fair play dan sportivitas sebagai simbol-simbol mati persepakbolaan yang hanya ada dalam teori semata, atau inikah trend baru dalam kepemimpinan olahraga nasional dimana sebuah organisasi dapat dipimpin seorang kriminal dan diatur dari balik jeruji besi dan mengabaikan etika baku yang ada di masyarakat umum, yang menilai secara langsung ketidakpantasan seorang pesakitan memimpin sebuah organisasi olahraga nasional yang menjadi duta secara tidak langsung di mata dunia dalam bidang olahraga yang begitu mendunia yaitu sepakbola. Tidak hanya dalam sepakbola tentunya simbol-simbol seperti fairplay dapat dijadikan motto dalam kehidupan sehari-hari agar tidak melibas hak-hak orang lain dalam menjalani tugasnya sebagai manusia biasa dan secara besar hati mengakui kesalahannya dan memberi peluang bagi generasi-generasi berikut untuk berpartisipasi dalam memajukan persepakbolaan nasional yang sedang dalam deep sorrow secara prestasi maupun manajemen organisasi.

3 thoughts on “SEPAK BOLA Dan KEPEMIMPINAN YANG FAIRPLAY

  1. Ping-balik: Nyaris Saja « Sambel Petis Abang

  2. terima kasih buat comment-nya….memang saya tidak berpihak kepada siapa2 dalam hal ini…meskipun saya sorang aremania…tetapi yang saya sangat kecewa adalah wajah persepakbolaan di negeri ini yang semakin lama semakin tidak jelas dan “jelas-jelas tidak fair play”, karena memang saya menyukai olahraga ini sebagai sebuah permainan teknik dan strategi tim, dan bukan sebagai sebuah sandiwara diatas lapangan hijau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s